Parma Calcio 1913 Sedang Berada dalam Masa Kegelapan

Roberto D'Aversa, pelatih kepala Parma

Demikianlah judul dari koran Italia ternama, La Gazzetta tulis di laman berita cetaknya.

Tim kebanggan kita ini terancam dengan degradasi ke Serie B dan sangat jauh dari kata selamat untuk tetap berada di Serie A musim depan.

Kembali ke dalam pembahasan kegelapan, apakah perjalanan Parma menuju keselamatan yang baru saja dimulai ini sudah harus berakhir?

Kecewa Demi Kecewa Terus Berdatangan

La Gazzetta yang terbit di kota Parma dengan tegas mencantumkan judul tajuk utama pada hari Minggu.

Setelah rentetan kekecewaan di pertandingan Sassuolo, Spezia dan Fiorentina, pelatih kepala Roberto D’Aversa kembali memberikan hal yang menyebalkan bagi para penggemar I Crociati, julukan tim Parma.

Saat lawan Sassuolo, kemenangan yang sudah di depan mata harus buyar di menit 94.

Ketatnya pertandingan melawan Spezia, tim promosi musim ini, harus kandas di 20 menit terakhir berkat kurang fokusnya lini pertahanan untuk menjaga keunggulan 2-0 di babak pertama.

Terbaru ketika seri 3-3 melawan Fiorentina.

Padahal, Parma yang mendominasi di pertandingan itu bisa unggul dengan skor 2-3 melalui gol di menit 90.

Sayangnya, 4 menit kemudian, Parma kemasukan gol yang membuat pertandingan harus berakhir imbang 3-3. Hasil pertandingan ini sesuai dengan prediksi bola jitu yang diterbitkan oleh situs peluitpanjang.

3 Bulan Lebih Tidak Menang

Parma-1-2-Genoa-(19-Maret-2021)

 

Sebelum melawan AS Roma, Parma terakhir kali mendapatkan kemenangan adalah pada 30 November 2020 di markas Genoa.

Kala itu, papan skor di peluit panjang berakhir dengan skor 1-2.

Delapan belas pertandingan di semua kompetisi kemudian, atau 17 di Serie A selanjutnya, Parma tidak pernah menang sama sekali.

Baru pada 14 Maret kemarin, secara mengejutkan, Parma menang 2-0 melawan Roma.

Entah apa yang terjadi, sedikit cahaya harapan dari Parma yang baru terlihat, dengan cepat langsung menghilang 5 hari kemudian.

Stadion Ennio Tardini, markas Parma, 5 hari kemudian, Genoa menang 1-2.

Sudah unggul terlebih dahulu melalui gol salto yang indah dari Graziano Pellè, Genoa justru bisa melakukan comeback melalui Gianluca Scamacca, penyerang yang sudah Parma incar untuk waktu yang lama.

Apa yang Salah?

Parma-2-0-AS-Roma-(14-Maret-2021)

 

 

Pertengahan September tahun lalu, optimism kembali muncul pasca dibelinya Parma oleh pengusaha Amerika Serikat, Kyle Krause.

Tidak muluk-muluk, Parma tidak meminta para pemain seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland atau siapapun dari kelas dunia.

Kami hanya ingin tim ini bisa tampil konsisten, tampil baik dan selamat dari jurang degradasi, itu saja.

Harapan muncul dari pemain muda berprospek cerah dari Bayern Munich bernama Joshua Zirkzee, berposisi penyerang tengah.

Menurut situs Peluit Panjang, Zirkzee punya seperangkat kemampuan untuk bermain seperti Romelu Lukaku.

Sayangnya, dia belum mendapatkan banyak menit bermain untuk menunjukkan hal tersebut.

Justru Graziano Pelle, penyerang tengah penuh pengalaman yang berhasil tampil gemilang bersama Parma.

Didatangkan dari Shandong Luneng Taishan, klub Tiongkok, mantan pemain tim nasional Italia ini sudah mencetak 1 gol dan membuat 1 assist dari 3 penampilan sejauh ini.

Pelle sudah tidak muda lagi, usianya sudah menginjak 35 tahun, kondisi fisiknya sudah tidak seprima 10 tahun lalu.

Hal yang menyedihkan lainnya adalah, para pemain kunci Parma kebanyakan sudah berusia lanjut.

Mulai seperti Jasmin Kurtic (32), Juraj Kucka (34), Ricardo Gagliolo (30), Gervinho (33) dan Bruno Alves (39).

Mungkin, hal tersebut berpengaruh kepada permainan Parma.

Dari 28 pertandingan Serie A, Parma kemasukan 54 gol dan hanya bisa 5 kali clean sheet atau nirbobol (1 pertandingan tanpa kemasukan gol).

Kemudian, Parma hanya bisa mencetak 26 gol sepanjang 28 pertandingan tersebut, artinya rata-rata tidak bisa mencetak 1 gol setiap pertandingannya.

Secara pertahanan dan penyerangan, Parma sama buruknya.

Parma memiliki sisa 10 pertandingan lagi di Serie A untuk selamat dari degradasi.

Saat ini, Parma berada di peringkat 19, berada di zona degradasi.

Parma harus bisa setidaknya finish di peringkat 17 klasemen akhir guna selamat dari degradasi.

Pertanyaannya adalah: apakah Parma bisa melakukan itu? Kalaupun bisa, bagaimana caranya? Kami sebagai penggemar hanya bisa menunggu dan berharap.