Sekilas Tentang Kebangkrutan dan Harapan Parma

Parma players celebrate after securing their third straight promotion. Photograph Simone Arveda EPA

Ketika suatu klub menghilang dari dunia sepakbola, hal tersebut selalu adalah sebuah pukulan berat. Di Inggris dan Perancis misalnya, klub-klub sepak bola seperti Wimbledon FC, Accrington FC, Sedan, Le Mans, atau Evian-Thonon-Gaillard (sampai tingkat tertentu) ialah bagian dari bencana. Bencana untuk para penggemar, pekerja, tetapi juga berdampak untuk bisnis, ekonomi dan kebudayaan kota atau wilayah. Jika contoh-contoh yang dipaparkan di sini ialah tentang klub yang tidak cukup bergengsi, tragedi yang sama pun dapat memengaruhi sebuah institusi sepakbola. Mari kita lihat Parma, klub Italia yang sangat hebat pada tahun 90-an.

Turunnya neraka ke Parma baru-baru ini sebenarnya dibuka pada tahun 2003, sebagai dampak dari kebangkrutan pemegang saham Parmalat. Sementara kendala keuangan berlipat ganda, klub milik Emilia-Romagna berubah dari kualifikasi untuk bermain di kancah Eropa sampai ke musim yang sulit, yang kesudahannya degradasi ke Serie B pada tahun 2008. Namun, Parma hanya 1 musim di Serie B, kemudian finis di peringkat 2 dan kembali promosi ke Serie A. Kembalinya ke divisi teratas terbilang sukses, sebab Gialloblù finis di posisi 8, tidak lolos kualifikasi Eropa hanya dengan 1 tingkat. Parma tampaknya telah menciptakan comeback yang cukup lama ke papan atas sepakbola Italia, dan bahkan menuntaskan musim 2013-2014 di posisi ke-6.

Baca Juga: Al Mana Group dari Qatar siap membeli Parma Calcio

Sedihnya, penyakit yang sudah mulai berkembang di klub selama bertahun-tahun kini terbangun dengan brutal. Meskipun Parma berhasil ikut kualifikasi guna Liga Eropa, Parma didiskualifikasi sebab tagihan yang tidak ditunaikan dan ketidakpatuhan terhadap Financial Fair Play. Bagaikan seseorang yang sudah tertimbun begitu lama di bawah tanah dan tidak bisa kembali ke permukaan, begitulah kondisi Parma. Bertahun-tahun Parma mengalami managemen yang buruk, kebangkrutan, serta pemegang saham dan presiden yang kinerjanya dipertanyakan.

Pada 2015, klub bersejarah ini mendapati dirinya di Serie D.

parma serie D

Untuk memahami betapa hancurnya Parma saat itu, bisa dilihat di masa lalu. Hanya dalam 10 tahun (1992-2002), Parma memenangkan 8 trofi: 3 Piala Italia, 1 Super Cup, 2 Piala UEFA, 1 European Cup Winners, dan 1 Europan Super Cup. Rekor yang cukup bagus yang dicapai hanya dalam beberapa musim di tahun 90an yang membuat Parma menjadi salah satu tim terbaik di Eropa.

Tidak sedikit pemain hebat mengenakan jersey kuning dan biru yang estetis ini. Buffon (dilatih di klub), Lilian Thuram (pemenang Piala Dunia dan Euro), Cannavaro (juara dunia di masa mendatang dan Ballon d’Or), Zola (aktor utama tim Parma) atau Crespo yang mencetak 93 gol dalam 198 pertandingan.

Setibanya Parma di Serie D yang setara liga semi-profesional, Parma langsung mengganti Namanya menjadi Parma Calcio 1913 yang sudah diambil alih oleh industrialis di daerah sekitar.

Pada 2015 di Serie D, Parma berhasil promosi ke Serie C musim berikutnya. Begitu pun dengan musim berikutnya mereka promosi ke Serie B dari Serie C. Di musim itu pun, Parma kembali promosi ke Serie A. Tiga kali promosi secara beruntun telah mengembalikan Parma dari Serie D ke Serie A pada tahun 2018.

Sepak bola tidak bisa diprediksi. Bahkan peramal, bandar judi atau algoritma tidak bisa memprediksi masa depan. Walaupun saat ini Parma berada di papan tengah Serie A, bukan berarti di masa depan tidak bisa kembali lagi ke papan atas Serie A.